Senin, 05 Januari 2015

takutku

aku memang tidak tahu bagaimana mencintai dengan benar
aku juga tidak tahu bagaimana mengakui dengan benar
aku cuma tahu, aku punya kamu.

aku tidak bisa menafsirkan bahasa rindu
aku tidak bisa menafsirkan rasa cemburu
aku cuma tahu, aku butuh kamu.

memang tak semudah mereka mengatakan, entah kenapa lidah terasa keruh dan kaku.
aku cukup percaya kamu mampu bersabar
sampai aku lancar mengatakannya, tunggulah.

aku mengeja namamu setiap hari
mengingat senyummu setiap saat
kadang, aku juga mengingat saat kau marah.
jujur aku kebingungan, aku tidak pandai mendamaikan hatimu, maaf.

kamu selalu pintar membuatku tertawa, tapi aku selalu nampak buruk di depanmu.
tak ada yg bisa ku lakukan untuk sekadar membuatmu percaya, aku ada, aku milikmu.

kamu mungkin bertanya-tanya
kenapa hatimu harus melihatku
aku juga menanyakan hal yang sama
kenapa kau melihatku?

terima kasih telah menemukanku
terimakasih menjadi jawaban atas rasaku
dan terimakasih untuk berkomitmen menjadi teman hidupku.

maaf, maaf aku yang masih menyangsikan mimpiku
maaf, aku masih bergelut dengan ketidak yakinan
maaf, aku yang masih takut untuk bermimpi lagi.
bukan salahmu, harusnya bukan salahmu, tapi kamu yang mendapatkan dampaknya. maafkan aku.
aku takut membangun mimpi terlalu tinggi lagi.
aku takut akan jatuh terperosok kembali.
bukan aku tak percaya kamu, bukan. tolong pahami aku.
aku hanya takut pada mimpiku sendiri. aku takut, mimpi itu akan membunuhku sampai aku tak berani untuk bermimpi lagi.

aku bermimpi menjelajahi bumi pertiwi
aku bermimpi berkunjung ke negeri sakura dan belahan bumi lainnya
hanya ada aku dan kamu, hanya kita berdua.
lalu kita pulang,
pulang ke rumah kita yang sederhana namun indah
pulang ke rumah kita yang sempat kosong karena kita tinggal
-cukup-
ku temukan sisi gelap
aku takut
aku takut mimpi itu akan jatuh lagi,
dan lagi..
aku belum siap untuk jatuh.

jakarta, januari, 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar