MAKALAH SASTRA BANDINGAN
Cerpen
Tujuan : Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma dengan Sehari
Menunggu Maut karya Ernest Hamingway
Oleh MABRUROH
PENDIDIKAN
BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS
ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2011
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Wr.Wb.
Puji
dan syukur dengan tulus penulis ucapkan kehadirat Allah SWT. Karena atas rahmat
dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam
penulis limpahkan kepada baginda Rosulullah SAW semoga kita selalu mendapat
syafa’at darinya di hari kiamat nanti.
Rampungnya
makalah ini juga disusun demi memenuhi tugas mata kuliah Sastra Bandingan. Di
samping itu juga, penulis berharap semoga melalui makalah ini para pembaca
mendapat gambaran mengenai apa itu Sastra Bandingan, untuk pembahasannya
penulis khususkan pada perbandingan cerpen “Tujuan: Negeri Senja” karya
Seno Gumira Ajidarma dari Indonesia dan “Sehari menunggu maut” karya
Ernest Hamingway dari Amerika.
Namun
demikian, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan dari pembaca demi
memperbaiki makalah ini.
Terimakasih
penulis ucapkan kepada Ibu Erlis selaku dosen pengampuh mata kuliah Sastra
Bandingan yang selalu memberikan motivasi kepada kita semua, mudah-mudahan
makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi orang-orang yang membacanya.
Amin.
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb.
Ciputat,
28 Desember 2011
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR ……………………………………………………………………. i
DAFTAR
ISI ………………………………………………………………………………. ii
PENDAHULUAN
Tema
……………………….…………………………………………………………... 1
Alasan
………………………………………………………………………………….. 1
Tujuan
…………………………………………………………………………………… 1
Artikel ………………………………………………………………………………….. 2
PERBANDINGAN
1. Ringkasan
cerita 4
2. Aspek
yang dianalisis yaitu keterkaitan Pasrah 6
3. Kepasrahan
dalam cerpen Tujuan: Negeri Senja 7
4.
Kepasrahan dalam
cerpen Sehari Menunggu Maut 10
5.
Posisi
karya sastra
PENUTUP
SIMPULAN
DAFTAR
PUSTAKA
BAB
1
1.
Pendahuluan
Dalam buku Teori
Kesusastraan Rene Wellek dan Austin Warren yang diterjemahkan kedalam
bahasa indonesia oleh Melani Budianata, menyatakan bahwa istilah Sastra Bandingan
dalam prakteknya menyangkut bidang studi dan masalah lain dan ada tiga
pengertian mengenai sastra bandingan:
Pertama, istilah ini dipakai untuk studi sastra lisan, terutama
cerita-cerita rakyat. Kedua, istilah sastra bandingan mencakup studi hubungan
antara dua kesusastraan atau lebih. Ketiga, istilah sastra bandingan disamakan
dengan studi sastra menyeluruh, jadi sama dengan sastra dunia, sastra umum atau
sastra universal.
Dalam kamus Webstrers,
sastra bandingan mempelajari hubungan timbal balik karya sastra dari dua atau
lebih kebudayaan nasional yang biasanya berlainan bahasa, dan terutama pengaruh
karya sastra yang satu terhadap karya sastra lain. Dapat kita artikan bahwa
sastra bandingan merupakan studi untuk mengkaji karya sastra atau hubungan dua
kesusastraana atau lebih yang biasanya berbeda bahasa.
Dalam sastra bandingan,
membandingkan cerpen merupakan salah satu
kegiatannya, dan di sini saya akan bandingan cerpen Tujuan: Negeri
Senja karya Seno Gumira Ajidarma (1998), dan Sehari menunggu maut
karya Ernest Hamingway (1933) yang diterjemahkan oleh Ursula Gyani Buditjahja
dari The Snows of Kilimanjaro yang diterbitkan oleh Yayasan Obor
Indonesia (1997). Saya akan melakukan studi perbandingan dari kedua cerpen
tersebut mengenai tema ceritanya yang sama yaitu tentang kepasrahan hidup
seseorang. Saya pikir kepasrahan merupakan tema yang cukup unik untuk dibahas,
di mana kedua karya sastra itu sama-sama memiliki keterkaitan namun dengan
alasan penyebab kepasrahan yang berbeda tentunya. Tujuannya adalah untuk
mengetahui bagaimana kepasrahan yang dimaksud dalam Cerpen Tujuan: Negeri
Senja (Indonesia) dan Sehari Menunggu Maut (Amerika Serikat).
Cerpen Tujuan:
Negeri Senja merupakan salah satu cerpen dari buku kumpulan cerpen karya
Seno Gumira Ajidarma (1998) dari Indonesia yang berjudul Iblis tidak pernah
mati yang menghimpun 15 cerita pendek yang terbit di Yogyakarta tahun 1999,
dan dimuat dalam harian kompas 16 Agustus 1998. Seno dilahirkan 19 Juni 1958 di Boston namun
dibesarkan di Yogyakarta. Belajar menulis sejak 1974 dan bekerja sebagai
wartawan pada usia 19 tahun, dan dari hasil tulisannya ia mendapat berbagai
penghargaan.
Cerpen Tujuan:
Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma pernah juga dibahas dalam sebuah Artikel
no 42 dimuat dijurnal penelitian Agama STAIN Purwokerto edisi Januari-Juni
2006: kode; senja dalam. Yang saya dapatkan dari PDF: SENJA DALAM DUNIA SENO GUMIRA AJIDARMA, di
sana dikatakan bahwa cerpen “Tujuan: Negeri Senja” dipublikasikan
pertama kali pada 8 november 1998 di harian Kompas. Sebagaimana telah
diungkap di depan bahwa Negeri Senja merupakan metafora dari Negeri
Indonesia dibawah pemerintahan Soeharto, dengan begitu bukankah proses
penulisan cerpen ini berada dalam akhir pemerintahan Soeharto, mei 1998?
Bukankah kasus penculikan para aktivis ini terbukti menjadi rangkaian akhir
kekuasaan Orde Baru? Akhir dalam berbagai konteks kehidupan Indonesia sering
kali digambarkan dengan senja kala. Apakah Negeri Senja dalam cerpen ini
metafora dari akhir pemerintahan Orde Baru?
Dan yang saya
bandingkan dengan cerpen Sehari Menunggu Maut yang merupakan cerpen
terjemahan karya Ernest Hamingway (1933) dalam kumpulan cerpennya yang berjudul
Salju Kilimanjaro yang diterjemahkan oleh Ursula Gyani Buditjahja dari The
Snows of Kilimanjaro yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia (1997)
dengan tebal
buku 315 halaman. Ernest Hemingway dilahirkan di Oak
Park, Ilinois, di sebuah daerah pemukiman golongan berada, di pinggiran kota
Chicago, Amerika Serikat, pada tahun 1899. Dan memenangkan Hadiah Nobel dalam
Sastra pada tahun 1954.
BAB
2
2.
Perbandingan
2.1 Ringkasan cerita
Dalam cerpen Tujuan:
Negeri Senja karya SGA mengisahkan di Yogyakarta tepatnya di stasiun Tugu, ada
sebuah loket yang selalu sepi dari pembeli yaitu loket yang hanya menjual tiket
ke jurusan Negeri Senja. Negeri senja, tidak ada yang tahu di mana
keberadaannya, seperti apa, dan bagaimana, akan tetapi selalu ada yang pergi
kesana, entah dengan alasan apa tapi pasti selalu ada. Padahal tidak ada yang
tahu ada apa disana, apakah yang pergi adalah mereka yang putus asa, mereka yang
berharap ada kebahagiaan disana, ataukah apa. Sebenarnya apa yang mereka
inginkan? apa yang mereka cari?
Laki-laki itu merasa
aneh, ada kejanggalan yang ia rasakan terhadap kereta Tujuan Negeri Senja itu,
setiap sore memang ada kereta yang menuju Negeri Senja akan tetapi tidak pernah
ada yang datang kembali dari sana.
Berbagai pertanyaaan
berkecambuk dalam otaknya, ia berusaha mengorek-orek jawaban dari petugas tiket
ke Negeri Senja itu, tapi nihil, tak ada satupun yang tahu jawabannya. Kata
penjaga tiket itu, mereka yang pergi kesana hanya perlu menandatangani sebuah
kertas, bahwa mereka menyetujui untuk tidak kembali.
Hal aneh macam apa lagi
ini pikirnya, laki-laki itu ingin menyelidikinya dengan mencoba pergi ke Negeri
Senja itu, tetapi tetap saja ia harus menandatangani dan siap untuk tidak
kembali, ia berfikir keras sekali, ia memang suka berpindah-pindah tempat, akan
tetapi perginya untuk kembali. Tapi ini, Siapa pula yang ingin pergi tapi tidak
untuk kembali?
Mereka-mereka itu yang
duduk di peron, yang jumlahnya tak pernah banyak, paling banter sampai 5 orang,
kadang hanya satu atau dua orang, tetapi selalu ada kereta yang berhenti di situ
dan hanya 5 menit, namun hanya yang sudah bertandatangan yang boleh duduk di
peron itu, dan laki-laki itu hanya bisa memandangi mereka, mereka dengan tangis
berpelukan melepas kepergian, kadang terdengar suara “jangan lupakan aku ya”,
atau melihat sebuah keluarga yang akan pergi bersama layaknya piknik bersama
anak-anak mereka, atau melihat anak remaja dengan model rambut anak punk
yang seakan tak punya semangat hidup lagi, atau kakek-kakek, nenek-nenek, dan mereka
semua seakan pasrah entah apa yang akan di jumpainya di Negeri Senja nanti,
wajah-wajah pasrah itu nampak jelas terlihat adanya.
Sebenarnya apa yang ada
dalam fikiran mereka, harapan kosong ataukah sebuah kematian yang mereka
inginkan?
Harapan yang kosong dan
pasrah akan kematian yang menjemputnya dapat kita jumpai juga dalam kumpulan
cerpen Salju Kilimanjaro karya Ernest Hamingway yang berjudul Sehari
Menunggu Maut.
Kisahnya dimulai hari itu, seorang
anak laki-laki usia 9 tahun bernama Schatz yang tiba-tiba masuk kamar, wajahnya pucat, tubuhnya gemetar,
sang ayah bingung, ia mendekati anak laki-lakinya itu yang meringkih di
perapian, keningnya panas, tak lama kemudian sang dokter datang, suhu badannya
102 0C begitulah kata dokter dan dokter memberikan 3 kapsul
berwarna untuk obatnya, bocah laki-laki itu terbaring di tempat tidur. Sambil menunggu waktu untuk meminumkan obat berikutnya, sang
ayah membacakan cerita meski tahu anaknya tak mungkin mendengarkan, dia
berharap anaknya cepat tidur namun mata anaknya tak juga terlelap, wajahnya
semakin pucat dengan lingkaran hitam dibawah kedua matanya, nampaknya dia juga
sudah tak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
Demamnya
semakin meninggi 102,40C sang ayah memberikan obat selanjutnya, tapi
anaknya tak pernah yakin obat itu akan menyembuhkannya, anak itu mengatakan
jika temannya waktu di prancis itu pernah bilang kalau “kita tidak bisa
bertahan dengan suhu 440C”, dan mengingat suhunya yang sudah sangat
melebihi 440C itu dia terus berfikir, kenyataan inilah yang membuat
dia semakin pasrah terhadap flu yang dideritanya, dan matanya kosong tak berkedip menatap kaki ranjang. Dia
terus menanyakan “berapa lama lagi sebelum aku mati?” meski ayahnya
meyakinkan kalau itu hanyalah demam biasa dan termometer suhu di sana berbeda
dengan tempatnya tinggal sekarang.
2.2 Aspek yang dianalisis yaitu keterkaitan Pasrah
Kepasrahan yang terasa
dari kedua cerpen itu yang menarik saya untuk membandingkannya, bagaimana
kepasrahan dalam cerpen Tujuan: Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma
(1998), dan
bagaimana kepasrahan yang dimaksud dalam cerpen Sehari Menunggu Maut
karya Ernest Hamingway (1933) yang diterjemahkan oleh Ursula Gyani Buditjahja
dari The Snows of Kilimanjaro yang diterbitkan oleh Yayasan Obor
Indonesia (1997). Apa yang menjadi penyebab kepasrahan tersebut?
Dalam KBBI arti pasrah
adalah menyerah(kan) sepenuhnya(v)
Dan
menurut Muhammad Yasir Tarmi,
pasrah
adalah yang menerima kenyataan begitu
saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Jadi, pasrah adalah menyerah begitu
saja dan menerima tanpa ada usaha untuk mengubahnya.
Dalam cerpen Tujuan
Negeri Senja kepasrahan itu dilatarbelakangi oleh para tokoh yang di
gambarkan SGA yang tak lagi memiliki harapan dalam menjalani hidupnya, sehingga
mereka memutuskan untuk pergi ke Negeri Senja yang tanpa satupun dari mereka
tahu seperti apa negeri senja itu. Sedangkan kepasrahan dalam cerpen Sehari
Menunggu Maut tergambarkan pada diri tokoh anak kecil yang terkena wabah
flu.
2.3 Perbedaannya
Kepasrahan dalam cerpen
Tujuan: Negeri Senja
Ketika manusia sudah
tak lagi memiliki harapan, bukankah itu sama halnya dengan mati?
Pasrah terhadap garisan takdir, pasrah
terhadap keadaan membuat kita menjadi manusia kerdil. Lihatlah, bagaimana seno
gumira menggambarkan mereka-mereka yang sudah tak lagi memiliki harapan,
mereka-mereka yang putus asa hingga menginginkan pergi ke Negeri Senja
yang tanpa siapa pun tahu ada apa disana, sampai-sampai mereka dengan mudah menandatangani
kepergian yang tidak untuk kembali itu, kematiankah? Kenapa mereka yang
menghampiri kematian itu? Apakah karena begitu pasrahnya?
“Seperti apa Negeri
Senja itu?”
“Tidak ada yang pernah
tahu.”
“Lho, waktu membangun
rel itu, sampai ke mana?”
“Wah, rel itu sudah ada
sejak stasiun ini belum berdiri. Tidak ada catatan apa-apa
tentang hal itu, dan
memang tidak pernah ada yang tahu.”
“Aneh sekali.”
“Ah, orang sini sudah
biasa. Adik saja yang sibuk bertanya-tanya.”
“Aneh, orang tidak
kembali kok biasa.”
“Apanya yang aneh? Ini
kan cuma seperti kematian. Apa yang aneh dengan
kematian?”
Apakah memang begitu?
Apakah kita tidak perlu merasa heran dan tidak perlu bertanya-tanya hanya
karena sesuatu memang tidak akan pernah kita ketahui? Kematian? kematian, hal
itu memang penuh misteri. Namun bukankah kereta api ini bisa dikuntit lantas
kita kembali lagi?
(Baca:
kutipan dari cerpen Tujuan: Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma)
Gambaran kepasrahan dan
kematian adalah hal yang sama, di mana orang itu sudah tak lagi memiliki
harapan dan tujuan yang pasti, ketika orang itu sudah tak lagi memiliki harapan
maka dia telah mati, karena satu-satunya yang bisa membedakan manusia bernyawa
dan tidak adalah harapan mereka. Seperti yang di ceritakan dalam cerpen
karangan SGA Tujuan: Negeri Senja bukankah di sana tidak dikatakan di mana
negeri senja itu, seperti apa, ada apa disana, kenapa mereka yang pergi tidak
pernah kembali, apakah disana itu kebahagiaan, apakah disana itu keabadian, keabadian
seperti apa yang dimaksud, segala macam pertanyaaan terus memburu, namun tak
satupun yang mendapatkan kepastian.
“Apakah Negeri senja
itu indah? tidak ada satu kabar burung pun dari sana. Tidak ada pengenalan
apa-apa yang membuat kita paling sedikit bisa mengira-ngira meskipun barang
kali salah sama sekali. Tidak ada apapun yang bisa dipegang meskipun sekadar
untuk menduga-duga saja. Hanya nama itu saja, Negeri Senja. Apalah yang bisa ku
tebak dari nama itu?”
(Baca:
kutipan dari cerpen Tujuan: Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma)
Apakah pembaca akan
menganggap bahwa Negeri Senja adalah sebuah kematian, sebuah keabadian, ataukah
sebuah tempat nan jauh di sana di mana tak ada satu orangpun yang mengetahuinya.
Tak ada penjelasan pasti
dalam cerpen itu penyebab keputusan mereka-mereka yang pergi ke Negeri Senja
itu, namun dari sudut pandangku setelah membaca cerpen ini, kepasrahan yang
dilatarbelakangi oleh kehidupan yang membuat mereka jenuh dan putus asa, mungkin
juga mereka telah muak dengan semua keegoisan di bumi ini, hukum alam yang belum
terganti “yang kuatlah yang menang”.
Namun dalam sebuah
artikel saya menemukan sesuatu yang melatar belakangi Seno dengan cerpennya
itu.
Berbagai karya SGA
dipengaruhi oleh realitas sosial yang ada dalam masyarakat Indonesia, tema-tema
sederhana yang ringan sampai tema kemanusiaan yang menyentuh ia tulis dalam
karya-karyanya. Sebagaimana telah diungkap di depan bahwa negeri senja
merupakan metafora dari negeri Indonesia dibawah pemerintahan Soeharto, dengan
begitu bukankah proses penulisan cerpen dan novel ini berada dalam akhir
pemerintahan Soeharto, mei 1998? bukankah negeri tempat orang-orangnya selalu
berkerudung sehingga wajahnya tidak terlihat; negeri yang sejarah kekuasaanya
dipenuhi dengan mayat bergelimpangan; negeri yang kaum fakirnya bergelimpangan
di mana-mana; negeri yang penuh bahaya karena hampir setiap hari darah
tertumpah; negeri di mana penguasanya dapat membaca pikiran rakyatnya; negeri
di mana penguasanya bernama Tirani yang tiran sebagaimana tergambar dalam novel
merupakan metafora dari Indonesia pada masa pemerintahan Suharto.
Cerpen “Tujuan:
Negeri Senja” mengingatkan orang-orang yang diculik pada 1998 dan hingga
kini ada empat belas orang yang belum kembali dan tidak diketahui nasibnya.
Tepatnya, peristiwa penculikan para aktivis pada bulan-bulan awal 1998,
penghujung akhir masa kekuasaan soeharto, ini digambarkan dengan metafora
berupa keberangkatan ke negeri senja yang tidak perna kembali. Peristiwa
penculikan aktivis yang ditengarai oleh tim mawar kopassus inilah yang
secara gambling direfleksikan seno dalam
sebuah naskah drama yang berjudul mengapa kau culik anak kam) para
aktivis itu memang telah menyadari akan segala konsekuensi, termasuk diculik
atau tindakan represif lainnya, atas sikap politik yang diambilnya dalam
mengritisi pemerintah, itu artinya sama dengan memberi tandatangan di loket
kereta api ke negeri senja, yang berarti siap untuk tidak kembali.
Kasus penculikan para aktivis ini
terbukti menjadi rangkaian akhir kekuasaan orde baru. Akhir dalam berbagai
konteks kehidupan Indonesia seringkali di gambarkan dengan senja kala. lukisan
dalam cerpen ini menggiring interpresi atas negeri senja sebagai
metafora dari akhir pemerintahan orde baru.
Kepasrahan
dalam cerpen Sehari Menunggu Maut
Dan
bagaimana Ernest Hamingway menyikapi kepasrahan hidup dalam cerpennya?
Hamingway
menggambarkannya melalui kepasrahan tokohnya, kepasrahannya dalam menerima
wabah flu, kepasrahannya dan menganggap obat tak lagi ada gunanya, kepasrahannya
yang hanya bisa membuatnya diam, diam berbaring di tempat tidurnya dan hanya menghitung
waktu untuk menunggu kematian yang menjemputnya.
“Ayah pikir ini bisa
menolong?”
“Pukul berapa kira-kira
aku akan mati?”
“Berapa lama lagi
sebelum aku mati?”
(Baca:
kutipan dari cerpen “sehari menunggu maut” karya Ernest Hemingway)
Hamingway melukiskan
kematian, bahwa kematian adalah yang memang akan datang dan menjemput nyawa
manusia. Dan saat kita tahu bahwa kematian akan mendatangi kita maka kita akan
dengan pasrah menerimanya, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, tak ada
semangatpun tersisa.
Penggambaran tokoh oleh
Hemingway, membuat tantangan tersendiri bagi saya, karena penggambaran tokoh
bukan berupa rentetan kata-kata melainkan bagaimana dia menggambarkan langsung
si tokoh itu dalam ceritanya. Pendapat saya ini juga di perkuat dari http://hensamfamily.multiply.com/journal/item/48/Membaca_Salju_Kilimanjaro
bahwa gaya penceritaannya yang dramatik dan obyektif membiarkan pembaca
menafsirkan sendiri permainan emosi dan pergolakan batin dari kalimat dan
tindakan tokoh-tokohnya yang diperagakan tanpa perlu diuraikan panjang lebar.
Bagaimana kepasrahan
bocah itu terhadap hidupnya, tergambarkan dalam tatapan matanya yang kosong dan
bagaimana dia menghadapi flunya.
“Pukul berapa kira-kira
aku akan mati?” atau
“Berapa lama lagi
sebelum aku mati?”
(Baca:
kutipan dari cerpen “Sehari menunggu maut” karya Ernest Hemingway)
Kepasrahan
yang dirasa oleh anak laki-laki itu disebabkan oleh wabah flu yang
menyerangnya, di tambah lagi seorang temannya pernah berkata, “kita tidak
bisa bertahan dengan suhu 440C”, sedangkan kenyataan yang
menimpanya, demamnya semakin meninggi yaitu 102,40C, hal itulah yang
menyebabkannya putus asa, pasrah begitu saja.
“Aku
tahu mereka mati. Waktu sekolah di Prancis dulu, anak-anak bilang kita tidak
bisa bertahan dengan suhu empat puluh empat, sedangkan suhuku sudah mencapai
seratus dua.”
(Baca:
kutipan dari cerpen “Sehari menunggu maut” karya Ernest Hemingway)
Sehari Menunggu Maut pertama kali dicetak pada tahun 1933 dan Ernest Hemingway menulis berdasarkan cerita pada pengalaman aktual. Dari sana saya menyimpulkan pengaturan itu pada awal 30-an di musim dingin. Dari pernyataan "Berjalan di permukaan kaca" sepertinya itu terjadi di musim dingin terdingin, pertengahan musim dingin mungkin Januari atau Februari. Penulis mengatakan ia pergi berburu, ada semak-semak, sungai, hal-hal alami, sehingga harus terjadi di wilayah negara, di suatu tempat di Amerika Serikat di mana penulis tinggal.
2.4 Posisi karya sastra
Seperti
yang tersirat dalam artikel di atas, cerpen Seno “Tujuan: Negeri Senja” pada
tahun 1998 merupakan kritik terhadap pemerintahan orde baru di akhir masa
pemerintahan Soeharto, bagaimana rakyat terus diselimuti rasa ketakutan, terhimpit
kekecewaan, terbungkam kemunafikan pada saat itu, di mana tidak ada yang berani
berbicara apalagi menyinggung pemerintah sudah pasti akan berakibat tidak baik.
Semua ini bukanlah merupakan ocehan semata, apa lagi dengan menghilangnya para
aktivis-aktivis melenyapkan pula suara keberanian itu. Suara-suara itu hilang tanpa
meninggalkan jejak apalagi pesan, jika pun mati tak ada mayat ataupun bekas
yang menyatakan, seolah-olah lenyap begiu saja. Seperti itulah keadaan
Indonesia saat itu, seperti senja yang digambarkan Seno dalam cerpennya “Tujuan:
Negeri Senja” sedangkan sehari menunggu maut karya Ernest Hamingway
bukanlah merupakan sindiran terhadap pemerintahannya akan tetapi dalam cerpen
sehari menunggu maut Ernest
Hemingway menulis berdasarkan cerita pada pengalaman aktual. Dari sana Ernest menyimpulkan pengaturan itu pada awal 30-an di musim
dingin. Dari pernyataan "Berjalan di permukaan kaca" sepertinya itu
terjadi di musim dingin terdingin, pertengahan musim dingin mungkin Januari
atau Februari. Ernest
mengatakan ia pergi berburu, ada semak-semak, sungai, hal-hal alami, sehingga harus
terjadi di wilayah negara, di suatu tempat di Amerika Serikat di mana penulis
tinggal.
Jadi untuk cerpen
sehari menunggu maut Ernest Hamingway tidak ada sangkut pautnya dengan dunia
kritik terhadap suatu keadaan, meskipun begitu Ernets mengemas cerita itu
dengan cantik.
PENUTUP
Simpulan
Adapun
kepasrahan dari kedua cerpen Tujuan: Negeri senja karya Seno Gumira
Ajidarma dan Sehari Menunggu Maut karya Ernest Hamingway dipengaruri
oleh hal yang tak sama, di mana makna pasrah dalam cerpen SDA disebabkan karena
latar kehidupan sosial yang berbeda, tak punya harapan dalam menjalani hidup
yang tergambar dalam tokohnya yang pasrah begitu saja. Sedangkan kepasrahan
yang didapat dari cerpen Hamingway disebabkan oleh wabah flu yang menyerang
tokoh anak laki-laki usia 9 tahun itu, yang membuatnya berfikir seolah-olah dia
akan mati pada hari itu juga.
Namun
bila dikaitkan dengan latar belakang keadaan penciptaan cerpen-cerpen itu
sungguh jauh perbedaannya, cerpen Tujuan: Negeri senja karya Seno Gumira
yang merupakan kritik terhadap masa orde baru atas menghilangnya para aktivis pada
masa itu dengan pengibaratan Negeri Senja yang tak satu pun tahu keberadaanya.
Daftar Pustaka
Ajidarma, Seno Gumira. 1999. Kumpulan
cerita pendek. Yogyakarta: Yayasan Galang
Hamingway, Ernest. 1997. The Snows
of Kilimanjaro. Yayasan Obor Indonesia
Wellek, Rene dan Warren, Austin. 1993. Teori
Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
http://www.tripod.lycos.com
PDF: digital_123533-RB01E452k-Kritik sosial-Analisis
PDF: SENJA DALAM DUNIA SENO GUMIRA AJIDARMA
(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/SENJA%20DALAM%20DUNIA%20SENO%20GUMIRA%20AJIDARMA.pdf)
http://hensamfamily.multiply.com/journal/item/48/Membaca_Salju_Kilimanjaro
Tidak ada komentar:
Posting Komentar