kau pulang setelah 2 tahun menghilang dari peredaran. aku senang. tapi aku tidak menemukan puisi itu dalam matamu
aku tidak menemukan binar kerinduan seperti kepulanganmu dulu.
aku juga tidak menemukan kehausan berjumpa meski bibirmu terus saja bercerita tentang rindu, tentang cinta, dan tentang kita.
aku mendengarnya, tapi ceritamu tak mengena di hatiku, tidak seperti kemarin, meski kau tidak bilang merindukanku, tapi kau mengatakannya dalam binar matamu, dalam genggaman tanganmu, dan dalam hangatnya senyummu.
mata itu, aku seperti melihat ada cinta lain di sana
rasa yang kau coba sembunyikan.
mata itu, aku seperti melihat ada cerita lain yang begitu menyita pikiranmu
aku di hadapanmu, tapi bukan aku di matamu
aku di hadapanmu, tapi bukan aku yang kau rindu
genggamanmu tak seerat dulu
tatapanmu tak sehangat dulu
ada yang hilang dalam dua tahun ini
entah apa aku tidak tahu.
"boleh aku pinjam handponemu?" ujarku kemudian disela-sela ceritamu
"untuk apa?"
"apa sekarang aku tak berhak melihatnya?"
"bukan begitu..."
"bisa aku melihatnya sekarang?"
"kamu kenapa?"
itu pertanyaan untuk dirimu sendiri. sambutku dalam hati. tanyakan hatimu, ada apa denganmu? apa rasa untukku sudah pupus?
kau ragu-ragu mengeluarkan ponselmu, dengan cepat aku memindahkannya dalam genggamanku
"aku lapar, bisa pesankan aku makanan?"
kau mengangguk, "menu seperti biasa?"
"ya, hanya saja, aku ingin lebih pedas hari ini"
aku melihat punggungmu menjauh, entah kenapa, aku merasa punggung itu tidak akan pernah berbalik lagi pada hatiku.
ku pandangi ponselmu, masih sama ada fotoku terpampang di sana. masihkah ini dengan ketulusan yang sama? atau kau baru menggantinya saat akan menemuiku?
dan aku melihatnya, aku tahu.
kau kembali,
"aku membaca massagemu, ada nama baru yang tidak pernah kau sebut dalam ceritamu."
"siapa?"
"apakah ini orangnya?" ku perlihatkan fotonya yang ku temukan di ponselmu.
ku temukan sedikit kepanikan di matamu.
"cantik, senyumnya juga manis, kau terlihat bahagia di sini." aku mengomentari fotonya.
"apa yang kau lakukan?!" kau hampir merebut ponselmu saat aku mencoba menelpon seseorang.
"hallo yang..?"
"aku bukan sayangmu, aku temannya."
"di mana dia? kenapa ponselnya bisa di kamu?"
"dia sedang bersamaku sekarang, jangan cemburu, aku teman lamanya, nana. Apa dia tidak pernah menyebut namaku?"
"tidak sama sekali"
"teman yang terlupakan."
"ah engga, mungkin dia lupa. kamu teman kampusnya?"
"iya, salam kenal rindu, namamu rindukan?"
"ah bukan, namaku zhara."
"manisnyaa... nama kamu di kontaknya rindu loh"
"iya, dia bilang karena sehari saja tidak bertemu bisa mudah membuatnya merindu."
pantas saja, tak ada binar rindu lagi untukku di matanya. ternyata ada rindu lain ucapku dalam hati.
"hahhaa.. dia memang pandai membuat hati wanita senang."
"kau sepertinya mengenal pacarku dengan baik"
"baiklah, kau mau bertanya apa tentang dia? hhahaa.."
"hahha..hhaha.. bisa saja kamu na, boleh aku bertanya?"
"ya, silahkan."
sengaja, dari awal memang aku speaker suaranya.
"apa kah dia bercerita tentangku?"
"ya" aku melihat laki-lakiku tapi aku melihat kisah kalian di matanya
"apa dia mengatakan, dia mencintaiku?"
"sangat"
"apa dia mengatakan merindukanku?"
"sampai bosan aku mendengarnya hhaha.."
"apa dia memiliki mantan di sana?"
"kenapa kamu menanyakan itu?"
"aku hanya ingin tahu, dia tidak pernah menceritakan masalalunya"
"buat apa?"
"aku hanya penasaran"
"ya dia punya"
"apakah..."
"dia lebih mencintaimu, jangan khawatir, jika memang mantanya begitu mencintainya, kau hanya perlu percaya bahwa hatinya hanya untukmu.."
dia merebut dan mematikan ponselnya dari tanganku.
"kenapa kau lakukan itu?!!!"
kau berteriak sangat keras sore itu.
...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar