Senin, 18 Maret 2013

Sastra Bandingan

MAKALAH SASTRA BANDINGAN

Cerpen Tujuan : Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma dengan Sehari Menunggu Maut karya Ernest Hamingway
Oleh MABRUROH                  

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH  JAKARTA
2011
                                                              

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb.
Puji dan syukur dengan tulus penulis ucapkan kehadirat Allah SWT. Karena atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam penulis limpahkan kepada baginda Rosulullah SAW semoga kita selalu mendapat syafa’at darinya di hari kiamat nanti.
Rampungnya makalah ini juga disusun demi memenuhi tugas mata kuliah Sastra Bandingan. Di samping itu juga, penulis berharap semoga melalui makalah ini para pembaca mendapat gambaran mengenai apa itu Sastra Bandingan, untuk pembahasannya penulis khususkan pada perbandingan cerpen “Tujuan: Negeri Senja” karya Seno Gumira Ajidarma dari Indonesia dan “Sehari menunggu maut” karya Ernest Hamingway dari Amerika.
Namun demikian, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kritik dan saran sangat penulis harapkan dari pembaca demi memperbaiki makalah ini.
Terimakasih penulis ucapkan kepada Ibu Erlis selaku dosen pengampuh mata kuliah Sastra Bandingan yang selalu memberikan motivasi kepada kita semua, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi orang-orang yang membacanya. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
                                                                                       
Ciputat, 28 Desember 2011
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………. i
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………….            ii
PENDAHULUAN
Tema ……………………….…………………………………………………………...      1
Alasan …………………………………………………………………………………..      1
Tujuan ……………………………………………………………………………………    1
Artikel …………………………………………………………………………………..      2
PERBANDINGAN
1.      Ringkasan cerita          4
2.      Aspek yang dianalisis yaitu keterkaitan Pasrah          6
3.      Kepasrahan dalam cerpen Tujuan: Negeri Senja        7
4.      Kepasrahan dalam cerpen Sehari Menunggu Maut     10
5.      Posisi karya sastra
PENUTUP
SIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA



BAB 1
1.            Pendahuluan
Dalam buku Teori Kesusastraan Rene Wellek dan Austin Warren yang diterjemahkan kedalam bahasa indonesia oleh Melani Budianata, menyatakan bahwa istilah Sastra Bandingan dalam prakteknya menyangkut bidang studi dan masalah lain dan ada tiga pengertian mengenai sastra bandingan:  Pertama, istilah ini dipakai untuk studi sastra lisan, terutama cerita-cerita rakyat. Kedua, istilah sastra bandingan mencakup studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih. Ketiga, istilah sastra bandingan disamakan dengan studi sastra menyeluruh, jadi sama dengan sastra dunia, sastra umum atau sastra universal.
Dalam kamus Webstrers, sastra bandingan mempelajari hubungan timbal balik karya sastra dari dua atau lebih kebudayaan nasional yang biasanya berlainan bahasa, dan terutama pengaruh karya sastra yang satu terhadap karya sastra lain. Dapat kita artikan bahwa sastra bandingan merupakan studi untuk mengkaji karya sastra atau hubungan dua kesusastraana atau lebih yang biasanya berbeda bahasa.
Dalam sastra bandingan, membandingkan cerpen merupakan salah satu  kegiatannya, dan di sini saya akan bandingan cerpen Tujuan: Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma (1998), dan Sehari menunggu maut karya Ernest Hamingway (1933) yang diterjemahkan oleh Ursula Gyani Buditjahja dari The Snows of Kilimanjaro yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia (1997). Saya akan melakukan studi perbandingan dari kedua cerpen tersebut mengenai tema ceritanya yang sama yaitu tentang kepasrahan hidup seseorang. Saya pikir kepasrahan merupakan tema yang cukup unik untuk dibahas, di mana kedua karya sastra itu sama-sama memiliki keterkaitan namun dengan alasan penyebab kepasrahan yang berbeda tentunya. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana kepasrahan yang dimaksud dalam Cerpen Tujuan: Negeri Senja (Indonesia) dan Sehari Menunggu Maut (Amerika Serikat).
Cerpen Tujuan: Negeri Senja merupakan salah satu cerpen dari buku kumpulan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma (1998) dari Indonesia yang berjudul Iblis tidak pernah mati yang menghimpun 15 cerita pendek yang terbit di Yogyakarta tahun 1999, dan dimuat dalam harian kompas 16 Agustus 1998. Seno  dilahirkan 19 Juni 1958 di Boston namun dibesarkan di Yogyakarta. Belajar menulis sejak 1974 dan bekerja sebagai wartawan pada usia 19 tahun, dan dari hasil tulisannya ia mendapat berbagai penghargaan.
Cerpen Tujuan: Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma pernah juga dibahas dalam sebuah Artikel no 42 dimuat dijurnal penelitian Agama STAIN Purwokerto edisi Januari-Juni 2006: kode; senja dalam. Yang saya dapatkan dari  PDF: SENJA DALAM DUNIA SENO GUMIRA AJIDARMA, di sana dikatakan bahwa cerpen “Tujuan: Negeri Senja” dipublikasikan pertama kali pada 8 november 1998 di harian Kompas. Sebagaimana telah diungkap di depan bahwa Negeri Senja merupakan metafora dari Negeri Indonesia dibawah pemerintahan Soeharto, dengan begitu bukankah proses penulisan cerpen ini berada dalam akhir pemerintahan Soeharto, mei 1998? Bukankah kasus penculikan para aktivis ini terbukti menjadi rangkaian akhir kekuasaan Orde Baru? Akhir dalam berbagai konteks kehidupan Indonesia sering kali digambarkan dengan senja kala. Apakah Negeri Senja dalam cerpen ini metafora dari akhir pemerintahan Orde Baru?
Dan yang saya bandingkan dengan cerpen Sehari Menunggu Maut yang merupakan cerpen terjemahan karya Ernest Hamingway (1933) dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Salju Kilimanjaro yang diterjemahkan oleh Ursula Gyani Buditjahja dari The Snows of Kilimanjaro yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia (1997) dengan tebal
buku 315 halaman. Ernest Hemingway dilahirkan di Oak Park, Ilinois, di sebuah daerah pemukiman golongan berada, di pinggiran kota Chicago, Amerika Serikat, pada tahun 1899. Dan memenangkan Hadiah Nobel dalam Sastra pada tahun 1954.






















BAB 2
2.            Perbandingan
2.1  Ringkasan cerita
Dalam cerpen Tujuan: Negeri Senja karya SGA mengisahkan di Yogyakarta tepatnya di stasiun Tugu, ada sebuah loket yang selalu sepi dari pembeli yaitu loket yang hanya menjual tiket ke jurusan Negeri Senja. Negeri senja, tidak ada yang tahu di mana keberadaannya, seperti apa, dan bagaimana, akan tetapi selalu ada yang pergi kesana, entah dengan alasan apa tapi pasti selalu ada. Padahal tidak ada yang tahu ada apa disana, apakah yang pergi adalah mereka yang putus asa, mereka yang berharap ada kebahagiaan disana, ataukah apa. Sebenarnya apa yang mereka inginkan? apa yang mereka cari?
Laki-laki itu merasa aneh, ada kejanggalan yang ia rasakan terhadap kereta Tujuan Negeri Senja itu, setiap sore memang ada kereta yang menuju Negeri Senja akan tetapi tidak pernah ada yang datang kembali dari sana.
Berbagai pertanyaaan berkecambuk dalam otaknya, ia berusaha mengorek-orek jawaban dari petugas tiket ke Negeri Senja itu, tapi nihil, tak ada satupun yang tahu jawabannya. Kata penjaga tiket itu, mereka yang pergi kesana hanya perlu menandatangani sebuah kertas, bahwa mereka menyetujui untuk tidak kembali.
Hal aneh macam apa lagi ini pikirnya, laki-laki itu ingin menyelidikinya dengan mencoba pergi ke Negeri Senja itu, tetapi tetap saja ia harus menandatangani dan siap untuk tidak kembali, ia berfikir keras sekali, ia memang suka berpindah-pindah tempat, akan tetapi perginya untuk kembali. Tapi ini, Siapa pula yang ingin pergi tapi tidak untuk kembali?
Mereka-mereka itu yang duduk di peron, yang jumlahnya tak pernah banyak, paling banter sampai 5 orang, kadang hanya satu atau dua orang, tetapi selalu ada kereta yang berhenti di situ dan hanya 5 menit, namun hanya yang sudah bertandatangan yang boleh duduk di peron itu, dan laki-laki itu hanya bisa memandangi mereka, mereka dengan tangis berpelukan melepas kepergian, kadang terdengar suara “jangan lupakan aku ya”, atau melihat sebuah keluarga yang akan pergi bersama layaknya piknik bersama anak-anak mereka, atau melihat anak remaja dengan model rambut anak punk yang seakan tak punya semangat hidup lagi, atau kakek-kakek, nenek-nenek, dan mereka semua seakan pasrah entah apa yang akan di jumpainya di Negeri Senja nanti, wajah-wajah pasrah itu nampak jelas terlihat adanya.
Sebenarnya apa yang ada dalam fikiran mereka, harapan kosong ataukah sebuah kematian yang mereka inginkan?
Harapan yang kosong dan pasrah akan kematian yang menjemputnya dapat kita jumpai juga dalam kumpulan cerpen Salju Kilimanjaro karya Ernest Hamingway yang berjudul Sehari Menunggu Maut.
Kisahnya dimulai hari itu, seorang anak laki-laki usia 9 tahun bernama Schatz yang tiba-tiba masuk kamar, wajahnya pucat, tubuhnya gemetar, sang ayah bingung, ia mendekati anak laki-lakinya itu yang meringkih di perapian, keningnya panas, tak lama kemudian sang dokter datang, suhu badannya 102 0C begitulah kata dokter dan dokter memberikan 3 kapsul berwarna untuk obatnya, bocah laki-laki itu terbaring di tempat tidur. Sambil menunggu waktu untuk meminumkan obat berikutnya, sang ayah membacakan cerita meski tahu anaknya tak mungkin mendengarkan, dia berharap anaknya cepat tidur namun mata anaknya tak juga terlelap, wajahnya semakin pucat dengan lingkaran hitam dibawah kedua matanya, nampaknya dia juga sudah tak peduli lagi dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
Demamnya semakin meninggi 102,40C sang ayah memberikan obat selanjutnya, tapi anaknya tak pernah yakin obat itu akan menyembuhkannya, anak itu mengatakan jika temannya waktu di prancis itu pernah bilang kalau “kita tidak bisa bertahan dengan suhu 440C”, dan mengingat suhunya yang sudah sangat melebihi 440C itu dia terus berfikir, kenyataan inilah yang membuat dia semakin pasrah terhadap flu yang dideritanya, dan matanya kosong tak berkedip  menatap kaki ranjang. Dia terus menanyakan “berapa lama lagi sebelum aku mati?” meski ayahnya meyakinkan kalau itu hanyalah demam biasa dan termometer suhu di sana berbeda dengan tempatnya tinggal sekarang.

2.2  Aspek yang dianalisis yaitu keterkaitan Pasrah
Kepasrahan yang terasa dari kedua cerpen itu yang menarik saya untuk membandingkannya, bagaimana kepasrahan dalam cerpen Tujuan: Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma (1998), dan bagaimana kepasrahan yang dimaksud dalam cerpen Sehari Menunggu Maut karya Ernest Hamingway (1933) yang diterjemahkan oleh Ursula Gyani Buditjahja dari The Snows of Kilimanjaro yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia (1997). Apa yang menjadi penyebab kepasrahan tersebut? 
Dalam KBBI arti pasrah adalah menyerah(kan) sepenuhnya(v)
Dan menurut Muhammad Yasir Tarmi, pasrah adalah  yang menerima kenyataan begitu saja tanpa ada usaha untuk mengubahnya. Jadi, pasrah adalah menyerah begitu saja dan menerima tanpa ada usaha untuk mengubahnya.
Dalam cerpen Tujuan Negeri Senja kepasrahan itu dilatarbelakangi oleh para tokoh yang di gambarkan SGA yang tak lagi memiliki harapan dalam menjalani hidupnya, sehingga mereka memutuskan untuk pergi ke Negeri Senja yang tanpa satupun dari mereka tahu seperti apa negeri senja itu. Sedangkan kepasrahan dalam cerpen Sehari Menunggu Maut tergambarkan pada diri tokoh anak kecil yang terkena wabah flu.
2.3  Perbedaannya
Kepasrahan dalam cerpen Tujuan: Negeri Senja
Ketika manusia sudah tak lagi memiliki harapan, bukankah itu sama halnya dengan mati?
Pasrah terhadap garisan takdir, pasrah terhadap keadaan membuat kita menjadi manusia kerdil. Lihatlah, bagaimana seno gumira menggambarkan mereka-mereka yang sudah tak lagi memiliki harapan, mereka-mereka yang putus asa hingga menginginkan pergi ke Negeri Senja yang tanpa siapa pun tahu ada apa disana, sampai-sampai mereka dengan mudah menandatangani kepergian yang tidak untuk kembali itu, kematiankah? Kenapa mereka yang menghampiri kematian itu? Apakah karena begitu pasrahnya?
“Seperti apa Negeri Senja itu?”
“Tidak ada yang pernah tahu.”
“Lho, waktu membangun rel itu, sampai ke mana?”
“Wah, rel itu sudah ada sejak stasiun ini belum berdiri. Tidak ada catatan apa-apa
tentang hal itu, dan memang tidak pernah ada yang tahu.”
“Aneh sekali.”
“Ah, orang sini sudah biasa. Adik saja yang sibuk bertanya-tanya.”
“Aneh, orang tidak kembali kok biasa.”
“Apanya yang aneh? Ini kan cuma seperti kematian. Apa yang aneh dengan
kematian?”
Apakah memang begitu? Apakah kita tidak perlu merasa heran dan tidak perlu bertanya-tanya hanya karena sesuatu memang tidak akan pernah kita ketahui? Kematian? kematian, hal itu memang penuh misteri. Namun bukankah kereta api ini bisa dikuntit lantas kita kembali lagi?
(Baca: kutipan dari cerpen Tujuan: Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma)
Gambaran kepasrahan dan kematian adalah hal yang sama, di mana orang itu sudah tak lagi memiliki harapan dan tujuan yang pasti, ketika orang itu sudah tak lagi memiliki harapan maka dia telah mati, karena satu-satunya yang bisa membedakan manusia bernyawa dan tidak adalah harapan mereka. Seperti yang di ceritakan dalam cerpen karangan SGA Tujuan: Negeri Senja bukankah di sana tidak dikatakan di mana negeri senja itu, seperti apa, ada apa disana, kenapa mereka yang pergi tidak pernah kembali, apakah disana itu kebahagiaan, apakah disana itu keabadian, keabadian seperti apa yang dimaksud, segala macam pertanyaaan terus memburu, namun tak satupun yang mendapatkan kepastian.
“Apakah Negeri senja itu indah? tidak ada satu kabar burung pun dari sana. Tidak ada pengenalan apa-apa yang membuat kita paling sedikit bisa mengira-ngira meskipun barang kali salah sama sekali. Tidak ada apapun yang bisa dipegang meskipun sekadar untuk menduga-duga saja. Hanya nama itu saja, Negeri Senja. Apalah yang bisa ku tebak dari nama itu?”
(Baca: kutipan dari cerpen Tujuan: Negeri Senja karya Seno Gumira Ajidarma)
Apakah pembaca akan menganggap bahwa Negeri Senja adalah sebuah kematian, sebuah keabadian, ataukah sebuah tempat nan jauh di sana di mana tak ada satu orangpun yang mengetahuinya.
Tak ada penjelasan pasti dalam cerpen itu penyebab keputusan mereka-mereka yang pergi ke Negeri Senja itu, namun dari sudut pandangku setelah membaca cerpen ini, kepasrahan yang dilatarbelakangi oleh kehidupan yang membuat mereka jenuh dan putus asa, mungkin juga mereka telah muak dengan semua keegoisan di bumi ini, hukum alam yang belum terganti “yang kuatlah yang menang”. 
Namun dalam sebuah artikel saya menemukan sesuatu yang melatar belakangi Seno dengan cerpennya itu.
Berbagai karya SGA dipengaruhi oleh realitas sosial yang ada dalam masyarakat Indonesia, tema-tema sederhana yang ringan sampai tema kemanusiaan yang menyentuh ia tulis dalam karya-karyanya. Sebagaimana telah diungkap di depan bahwa negeri senja merupakan metafora dari negeri Indonesia dibawah pemerintahan Soeharto, dengan begitu bukankah proses penulisan cerpen dan novel ini berada dalam akhir pemerintahan Soeharto, mei 1998? bukankah negeri tempat orang-orangnya selalu berkerudung sehingga wajahnya tidak terlihat; negeri yang sejarah kekuasaanya dipenuhi dengan mayat bergelimpangan; negeri yang kaum fakirnya bergelimpangan di mana-mana; negeri yang penuh bahaya karena hampir setiap hari darah tertumpah; negeri di mana penguasanya dapat membaca pikiran rakyatnya; negeri di mana penguasanya bernama Tirani yang tiran sebagaimana tergambar dalam novel merupakan metafora dari Indonesia pada masa pemerintahan Suharto.
Cerpen “Tujuan: Negeri Senja” mengingatkan orang-orang yang diculik pada 1998 dan hingga kini ada empat belas orang yang belum kembali dan tidak diketahui nasibnya. Tepatnya, peristiwa penculikan para aktivis pada bulan-bulan awal 1998, penghujung akhir masa kekuasaan soeharto, ini digambarkan dengan metafora berupa keberangkatan ke negeri senja yang tidak perna kembali. Peristiwa penculikan aktivis yang ditengarai oleh tim mawar kopassus inilah yang secara  gambling direfleksikan seno dalam sebuah naskah drama yang berjudul mengapa kau culik anak kam) para aktivis itu memang telah menyadari akan segala konsekuensi, termasuk diculik atau tindakan represif lainnya, atas sikap politik yang diambilnya dalam mengritisi pemerintah, itu artinya sama dengan memberi tandatangan di loket kereta api ke negeri senja, yang berarti siap untuk tidak kembali.
Kasus penculikan para aktivis ini terbukti menjadi rangkaian akhir kekuasaan orde baru. Akhir dalam berbagai konteks kehidupan Indonesia seringkali di gambarkan dengan senja kala. lukisan dalam cerpen ini menggiring interpresi atas negeri senja sebagai metafora dari akhir pemerintahan orde baru.
Kepasrahan dalam cerpen Sehari Menunggu Maut
Dan bagaimana Ernest Hamingway menyikapi kepasrahan hidup dalam cerpennya?
Hamingway menggambarkannya melalui kepasrahan tokohnya, kepasrahannya dalam menerima wabah flu, kepasrahannya dan menganggap obat tak lagi ada gunanya, kepasrahannya yang hanya bisa membuatnya diam, diam berbaring di tempat tidurnya dan hanya menghitung waktu untuk menunggu kematian yang menjemputnya.
“Ayah pikir ini bisa menolong?”
“Pukul berapa kira-kira aku akan mati?”
“Berapa lama lagi sebelum aku mati?”
(Baca: kutipan dari cerpen “sehari menunggu maut” karya Ernest Hemingway)
Hamingway melukiskan kematian, bahwa kematian adalah yang memang akan datang dan menjemput nyawa manusia. Dan saat kita tahu bahwa kematian akan mendatangi kita maka kita akan dengan pasrah menerimanya, tidak ada lagi yang bisa kita lakukan, tak ada semangatpun tersisa.
Penggambaran tokoh oleh Hemingway, membuat tantangan tersendiri bagi saya, karena penggambaran tokoh bukan berupa rentetan kata-kata melainkan bagaimana dia menggambarkan langsung si tokoh itu dalam ceritanya. Pendapat saya ini juga di perkuat dari http://hensamfamily.multiply.com/journal/item/48/Membaca_Salju_Kilimanjaro bahwa gaya penceritaannya yang dramatik dan obyektif membiarkan pembaca menafsirkan sendiri permainan emosi dan pergolakan batin dari kalimat dan tindakan tokoh-tokohnya yang diperagakan tanpa perlu diuraikan panjang lebar.
Bagaimana kepasrahan bocah itu terhadap hidupnya, tergambarkan dalam tatapan matanya yang kosong dan bagaimana dia menghadapi flunya.
“Pukul berapa kira-kira aku akan mati?” atau
“Berapa lama lagi sebelum aku mati?”
(Baca: kutipan dari cerpen “Sehari menunggu maut” karya Ernest Hemingway)
Kepasrahan yang dirasa oleh anak laki-laki itu disebabkan oleh wabah flu yang menyerangnya, di tambah lagi seorang temannya pernah berkata, “kita tidak bisa bertahan dengan suhu 440C”, sedangkan kenyataan yang menimpanya, demamnya semakin meninggi yaitu 102,40C, hal itulah yang menyebabkannya putus asa, pasrah begitu saja.
“Aku tahu mereka mati. Waktu sekolah di Prancis dulu, anak-anak bilang kita tidak bisa bertahan dengan suhu empat puluh empat, sedangkan suhuku sudah mencapai seratus dua.”
(Baca: kutipan dari cerpen “Sehari menunggu maut” karya Ernest Hemingway)
Sehari Menunggu Maut pertama kali dicetak pada tahun 1933 dan Ernest Hemingway menulis berdasarkan cerita pada pengalaman aktual. Dari sana saya menyimpulkan pengaturan itu pada awal 30-an di musim dingin. Dari pernyataan "Berjalan di permukaan kaca" sepertinya itu terjadi di musim dingin terdingin, pertengahan musim dingin mungkin Januari atau Februari. Penulis mengatakan ia pergi berburu, ada semak-semak, sungai, hal-hal alami, sehingga harus terjadi di wilayah negara, di suatu tempat di Amerika Serikat di mana penulis tinggal.
2.4  Posisi karya sastra
Seperti yang tersirat dalam artikel di atas, cerpen Seno “Tujuan: Negeri Senja” pada tahun 1998 merupakan kritik terhadap pemerintahan orde baru di akhir masa pemerintahan Soeharto, bagaimana rakyat terus diselimuti rasa ketakutan, terhimpit kekecewaan, terbungkam kemunafikan pada saat itu, di mana tidak ada yang berani berbicara apalagi menyinggung pemerintah sudah pasti akan berakibat tidak baik. Semua ini bukanlah merupakan ocehan semata, apa lagi dengan menghilangnya para aktivis-aktivis melenyapkan pula suara keberanian itu. Suara-suara itu hilang tanpa meninggalkan jejak apalagi pesan, jika pun mati tak ada mayat ataupun bekas yang menyatakan, seolah-olah lenyap begiu saja. Seperti itulah keadaan Indonesia saat itu, seperti senja yang digambarkan Seno dalam cerpennya “Tujuan: Negeri Senja” sedangkan sehari menunggu maut karya Ernest Hamingway bukanlah merupakan sindiran terhadap pemerintahannya akan tetapi dalam cerpen sehari menunggu maut Ernest Hemingway menulis berdasarkan cerita pada pengalaman aktual. Dari sana Ernest menyimpulkan pengaturan itu pada awal 30-an di musim dingin. Dari pernyataan "Berjalan di permukaan kaca" sepertinya itu terjadi di musim dingin terdingin, pertengahan musim dingin mungkin Januari atau Februari. Ernest mengatakan ia pergi berburu, ada semak-semak, sungai, hal-hal alami, sehingga harus terjadi di wilayah negara, di suatu tempat di Amerika Serikat di mana penulis tinggal.
Jadi untuk cerpen sehari menunggu maut Ernest Hamingway tidak ada sangkut pautnya dengan dunia kritik terhadap suatu keadaan, meskipun begitu Ernets mengemas cerita itu dengan cantik.








PENUTUP
Simpulan
Adapun kepasrahan dari kedua cerpen Tujuan: Negeri senja karya Seno Gumira Ajidarma dan Sehari Menunggu Maut karya Ernest Hamingway dipengaruri oleh hal yang tak sama, di mana makna pasrah dalam cerpen SDA disebabkan karena latar kehidupan sosial yang berbeda, tak punya harapan dalam menjalani hidup yang tergambar dalam tokohnya yang pasrah begitu saja. Sedangkan kepasrahan yang didapat dari cerpen Hamingway disebabkan oleh wabah flu yang menyerang tokoh anak laki-laki usia 9 tahun itu, yang membuatnya berfikir seolah-olah dia akan mati pada hari itu juga.
Namun bila dikaitkan dengan latar belakang keadaan penciptaan cerpen-cerpen itu sungguh jauh perbedaannya, cerpen Tujuan: Negeri senja karya Seno Gumira yang merupakan kritik terhadap masa orde baru atas menghilangnya para aktivis pada masa itu dengan pengibaratan Negeri Senja yang tak satu pun tahu keberadaanya.











Daftar Pustaka
Ajidarma, Seno Gumira. 1999. Kumpulan cerita pendek. Yogyakarta: Yayasan Galang
Hamingway, Ernest. 1997. The Snows of Kilimanjaro. Yayasan Obor Indonesia
Wellek, Rene dan Warren, Austin. 1993. Teori Kesusastraan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
http://www.tripod.lycos.com
PDF: digital_123533-RB01E452k-Kritik sosial-Analisis
PDF: SENJA DALAM DUNIA SENO GUMIRA AJIDARMA
(http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/SENJA%20DALAM%20DUNIA%20SENO%20GUMIRA%20AJIDARMA.pdf)
http://hensamfamily.multiply.com/journal/item/48/Membaca_Salju_Kilimanjaro






Sepotong Hati yang Tertinggal

Sepotong Hati yang Tertinggal

Senja itu, kala terakhir aku menatap matanya, mencoba meyakini hati.
“Tak apa,” bisikku pilu dalam diri
“Aku akan pergi lama dan mungkin tak akan pernah balik lagi,” katanya.
Dan kusimpan tangisku untuk hadirkan sebuah senyuman dalam lakon kebohongan yang kumainkan saat itu. Namun sedetikpun aku tak ingin lepas dari pupil hitamnya, seakan tak ada kerelaan yang coba kutahan.
“Pergilah, untuk apa aku menahanmu di sini, kau pun tetap harus pergi.” Bohongku lagi.
Aku bingung, apa yang aku rasakan.
Ketika dia bilang hendak pergi untuk melanjutkan S1 di Singapore, aku tak bisa menghalanginya dan itu juga tak mungkin aku lakukan. Entahlah, kenapa aku merasa kalau dia benar-benar akan pergi, bukan hanya untuk melanjutkan studi tapi juga untuk meninggalkanku.
Perasaan apa ini…, kugigit bibir bawahku mencoba menahan tangis yang hampir menggagalkan aktingku.
“Tapi, gimana dengan hubungan kita?” Tanyamu masih tak percaya dengan keputusanku
Terhanyut dalam lamunanku sendiri,
“Hah? Apa?”
“Gimana dengan hubungan kita?” Tanyamu lagi
“Apa yang kau inginkan?”
“Aku… aku….” Lalu kau terdiam, beku, tak mampu melanjutkan kata-katamu.
“Aku tak bisa menunggumu.” Putusku kemudian
“Tidak! Bukan itu yang aku inginkan!” Bantahmu
“Indonesia dan Singapura, tidak sama dengan Jakarta-Depok,” kataku lagi
“Kita masih bisa komunikasi, aku akan lebih sering menghubungimu, kita juga bisa chattingan kapan pun kita mau!” Serumu kemudian.
Melihatku diam dia terus saja mengoceh, berusaha untuk meyakinkanku dan berharap aku bisa memahami pintanya. Aku mengerti, dia tak bisa mengendalikan perasaannya, cinta dan egonya tak bisa dibedakan saat ini. Dan aku harus menghentikan drama ini. Meski aku tahu,  aku tak bisa mengalihkan mata ini pada hal lain jika ada dia di depanku. Tapi, tidak untuk sekarang! Aku harus melakukannya.
Kemudian, aku berbalik memunggunginya.
“Aku yang ga bisa jika kita jauh, dan aku… aku ga bisa menunggumu.” Ucapku tanpa ragu, seketika airmata ini berderai, tak mampu kutahan. Dan aku tak harap dia tahu.
Aku beranjak pergi, tanpa menunggu kata apapun darinya, tanpa berbalik, untuk melihatnya dan tanpa menunggu meski sejenak untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal. Sungguh aku takut. Aku takut jika aku berbalik aku tak mampu untuk melepaskannya. Aku takut, jika berbalik dia akan melihat airmataku. Aku takut. Sungguh aku takut untuk benar-benar kehilangannya.
“Tapi aku janji, suatu saat nanti aku akan menemuimu.” Yakinku dalam hati.
“Aku akan selalu mencintaimu! Apapun yang kau katakan aku tetap mencintaimu! Kita akan selalu bersama!” Teriakmu memecah senja yang mulai nampak hilang berganti malam.
Aku tak perduli, semakin mempercepat langkahku dan secepat mungkin menghilang dari hadapannya.
Aku tak tahu ke mana kaki ini menyeretku, terus berjalan dan berjalan, hanya itu yang kutahu. Tanpa sadar, malam menjeratku, sendiri berselimut sepi. Dan aku berhenti, tertunduk perih di pinggir jalan. Tangisku semakin pecah di kegelapan malam, kutengadahkan mata, semua terlihat gelap gulita seperti halnya hati ini.
“Kini aku sendiri,” lirihku,
Tangisku kembali berderu dalam sapuan angin malam. Sepi. Seperti nyanyian malam yang memilukan.
***
Dan hari-hari berikutnya, tak ada lagi cerita cinta, tak ada lagi tangis airmata. Meski, masih terpatri dengan satu nama “ABE”
“Kemarin, sekarang, dan esok akan tetap sama, tak ada yang berubah dengan hati ini, tak akan terisi oleh siapapun, takkan terganti oleh apapun.” Bisikku dalam hati saat memandang fotonya, tertulis di sana 20 Mei 2010. Hmm.. Terkulum senyumku, sekarang tanggal 22 November 2014. Rasanya baru kemarin aku belajar birunya rindu.
“Ayaaaa!” Chika membangunkanku, “ini sudah sore! masa lu mau tidur mulu. Tuh handphone lu dari tadi bunyi terus” Ocehnya lagi.
Ya, semenjak aku masuk kuliah di salah satu universitas di Indonesia empat tahun lalu, aku tinggal bersama Chika teman baruku. Dia pun tahu semua ceritaku tentang ‘Abe’ memang, seperti janjinya dia semakin sering menghubungiku dari negeri seberang sana. Namun, ini tidak berlangsung lama hanya bertahan dua bulan setelah kepergiannya.
“Chika cantik.. gw sudah bangun ko,” jawabku sambil memasukkan kembali foto itu ke dalam laci. Tersimpan rapih di sana, hatiku, rinduku, mimpiku dan cerita tentangnya.
“Oh iya, tadi Boby SMS gw katanya lu ga balas SMS dia! Dia mau jemput lu jam lima sore ini!” Teriaknya yang kemudian muncul di balik pintu.
“Chika…. kan lu tahu dari dulu gw ....”
“Ya karena gw tahu! Ayolah Ayaaaa! Come on baby…,  move on! Nikmati masamu sekarang, lagian sampe kapan lu mau seperti ini terus?”
“Seperti ini gimana? Chika, gw seneng-seneng aja ko. Lagian, apa lu pernah lihat gw nangis? Ga kan?”
Chika duduk di sampingku,
“Bukan itu maksud gw..  ya elu mau sampe kapan nutup hati lu?”
Aku hanya menggeleng, “entahlah, aku belum mau.”
Kemudian dia bangkit lagi,
“Pokoknya sore ini lu ga boleh nolak. Cepat sana mandi! Inget jam lima lu harus sudah rapih.”
Sekonyong-konyong dia langsung hilang di balik pintu. Dan aku masih bengong, enggak ngerti jalan pikirannya. “Kenapa jadi dia yang ngatur hidup gw?” Pikirku telat.
Aku langsung bangkit dan mengejarnya.
“Chika! Sorry, gw belum sempat cerita ke elu,”
“Tentang apa?”
“Sore ini gw mau ke Singapur…” Kataku merasa bersalah
“Kenapa tiba-tiba?”
“Ini ga tiba-tiba ko, aku sudah merencanakannya sejak lama.”
Kulihat Chika menghela nafas,
“Hmm.. aku tahu pasti kamu punya alasan ke sana. Ya sudahlah, baik-baik nanti di sana, cepat selesaikan urusanmu, setelah itu langsung balik. Untuk urusan di sini biar gw yang urus.”
Kupeluk sahabatku yang satu ini, “terimakasih Chika. Aku janji aku akan cepat balik.” Entahlah, kenapa aku berkata seperti itu.

***
Aku pernah janji “suatu saat nanti aku akan menemuimu” dan sekarang, kupenuhi janji itu. Kini aku dapat melihatmu, meliatmu memakai Toga. “Kau sangat keren,” pujiku, memang tak ada yang berubah, di mataku kau tetap keren. Dulu.. sekarang.. hanya saja, sekarang bukan aku yang ada di sampingmu.
Dan sesaat mata kita bertemu, kulihat kau memicingkan mata, mencoba menajamkan penglihatanmu. “Benar, ini aku.” Bisikku dalam hati, lalu aku tersenyum untuk menjawab tanya pada matanya.
Tak lama setelah itu, kau mulai beranjak menghampiri di mana tempatku berada, tentunya dengan menggandeng wanita itu. Kau mulai mendekat dan semakin dekat. Jantungku.. uuuughtt! Berdegup memberontak. Tak bernada. Namun langkahmu, begitu yakin dan berirama. Oh Tuhan… Kuatkan aku!
“Hai,”
Sapamu seperti nyanyian terdengar oleh telingaku, membuatku merindu sesaat akan hadirmu. Cepat tersadar dan kubalas dengan senyumku.
“Kenapa tak bilang ada di sini?” Tanyamu.
“Selamat ya!” Itu jawabanku atas kelulusanmu
“Terimakasih. Oh iya, kenalkan ini tunanganku Ainin,” katamu kemudian
DEG. Kutahan degup jantungku yang terkoyak, kusimpan tangisku yang hampir pecah, kusembunyikan lututku yang hampir roboh dan yang terpenting, kutahan suaraku agar tak menjerit.
Aku mengulum senyum pada Ainin, ia mengulurkan tangan dan aku menjabat tangan cantiknya.
“Selamat ya, aku Aya teman SMA Abe saat di Jakarta dulu,” sapaku mencoba hangat padanya, kubuat setulus mungkin.
“Aku Seva Ainin Salwa tunangannya, salam kenal,” jawabnya,
Aku hanya menganggukkan kepala, tak lupa untuk tetap tersenyum.
“Sejak kapan ada di sini?” Tanyamu lagi
“Dua hari yang lalu.”
“Tinggal sama siapa?”
“Sepupuku.”
“Beruntung kau ada di sini sekarang,” Ainin ikut nimbrung
“Kenapa?” Heranku
“Aku akan mengundangmu di pesta pernikahan kami minggu depan, sebagai tamu special,”
“Tak usah, aku tak akan datang.” Kulihat, kau terkejut dengan jawabanku yang tanpa basa-basi itu.
“Kenapa?” Kejar Ainin heran, mungkin itu juga pertanyaan yang ada di benakmu.
“Besok pagi aku sudah harus kembali ke negeriku Indonesia,” jawabku datar.
“Oh, kenapa tak menetap lebih lama di sini?”
“Sedang menyusun tugas akhir.”
“Oh iya? Semoga lancar.”
“Amin, baiklah aku harus pergi sekarang.”
“Yah, hati-hati” Katamu kemudian, menutup perjumpaan kita siang itu.
Aku pun beranjak perlahan, dan perlahan juga rekaman kenangan saat-saat bersama dulu kembali memutar dalam memoriku, berputar terus berputar silih berganti, matamu, senyummu, tawamu, candamu, dan bisikan cintamu yang tak pernah bosan aku mendengarnya, masih sangat jelas dalam ingatanku. Namun kali ini, sulit sekali rasanya untuk bernapas. Sesak.
Dan sesuatu menampar mataku, menggumpal membuat mataku pedih. Dan sedetik kutersadar, bahwa kini kau bukan milikku lagi. Kini penantianku berujung tanpa tanya.
Kuayunkan langkah menjauh darimu dan semakin jauh. Tangisku pecah, tak dapat kuhentikan derai airmataku yang kembali menyapa bumi, menjawab kerinduanku dan menjawab penantian cintaku.
Kini, aku tahu bagaimana rasanya menunggu, kini aku tahu bagaimana rasanya terluka, kini aku tahu apa itu kesetiaan, kini aku tahu apa itu merelakan dan kini aku tahu alasan untuk airmataku.
Kupalingkan diri dari masa kelam, ada rindu yang tak terjawab terbalut luka, ada airmata tak terbalas berselimut dendam, dan ada sepotong hati yang tertinggal yang tak ku mengerti untuk siapa. Dan dalam sepi aku bertanya, masih adakah rasa yang tertinggal untukku di sana? 
Ie_Kidz