Senin, 18 Maret 2013

Sepotong Hati yang Tertinggal

Sepotong Hati yang Tertinggal

Senja itu, kala terakhir aku menatap matanya, mencoba meyakini hati.
“Tak apa,” bisikku pilu dalam diri
“Aku akan pergi lama dan mungkin tak akan pernah balik lagi,” katanya.
Dan kusimpan tangisku untuk hadirkan sebuah senyuman dalam lakon kebohongan yang kumainkan saat itu. Namun sedetikpun aku tak ingin lepas dari pupil hitamnya, seakan tak ada kerelaan yang coba kutahan.
“Pergilah, untuk apa aku menahanmu di sini, kau pun tetap harus pergi.” Bohongku lagi.
Aku bingung, apa yang aku rasakan.
Ketika dia bilang hendak pergi untuk melanjutkan S1 di Singapore, aku tak bisa menghalanginya dan itu juga tak mungkin aku lakukan. Entahlah, kenapa aku merasa kalau dia benar-benar akan pergi, bukan hanya untuk melanjutkan studi tapi juga untuk meninggalkanku.
Perasaan apa ini…, kugigit bibir bawahku mencoba menahan tangis yang hampir menggagalkan aktingku.
“Tapi, gimana dengan hubungan kita?” Tanyamu masih tak percaya dengan keputusanku
Terhanyut dalam lamunanku sendiri,
“Hah? Apa?”
“Gimana dengan hubungan kita?” Tanyamu lagi
“Apa yang kau inginkan?”
“Aku… aku….” Lalu kau terdiam, beku, tak mampu melanjutkan kata-katamu.
“Aku tak bisa menunggumu.” Putusku kemudian
“Tidak! Bukan itu yang aku inginkan!” Bantahmu
“Indonesia dan Singapura, tidak sama dengan Jakarta-Depok,” kataku lagi
“Kita masih bisa komunikasi, aku akan lebih sering menghubungimu, kita juga bisa chattingan kapan pun kita mau!” Serumu kemudian.
Melihatku diam dia terus saja mengoceh, berusaha untuk meyakinkanku dan berharap aku bisa memahami pintanya. Aku mengerti, dia tak bisa mengendalikan perasaannya, cinta dan egonya tak bisa dibedakan saat ini. Dan aku harus menghentikan drama ini. Meski aku tahu,  aku tak bisa mengalihkan mata ini pada hal lain jika ada dia di depanku. Tapi, tidak untuk sekarang! Aku harus melakukannya.
Kemudian, aku berbalik memunggunginya.
“Aku yang ga bisa jika kita jauh, dan aku… aku ga bisa menunggumu.” Ucapku tanpa ragu, seketika airmata ini berderai, tak mampu kutahan. Dan aku tak harap dia tahu.
Aku beranjak pergi, tanpa menunggu kata apapun darinya, tanpa berbalik, untuk melihatnya dan tanpa menunggu meski sejenak untuk sekadar mengucapkan selamat tinggal. Sungguh aku takut. Aku takut jika aku berbalik aku tak mampu untuk melepaskannya. Aku takut, jika berbalik dia akan melihat airmataku. Aku takut. Sungguh aku takut untuk benar-benar kehilangannya.
“Tapi aku janji, suatu saat nanti aku akan menemuimu.” Yakinku dalam hati.
“Aku akan selalu mencintaimu! Apapun yang kau katakan aku tetap mencintaimu! Kita akan selalu bersama!” Teriakmu memecah senja yang mulai nampak hilang berganti malam.
Aku tak perduli, semakin mempercepat langkahku dan secepat mungkin menghilang dari hadapannya.
Aku tak tahu ke mana kaki ini menyeretku, terus berjalan dan berjalan, hanya itu yang kutahu. Tanpa sadar, malam menjeratku, sendiri berselimut sepi. Dan aku berhenti, tertunduk perih di pinggir jalan. Tangisku semakin pecah di kegelapan malam, kutengadahkan mata, semua terlihat gelap gulita seperti halnya hati ini.
“Kini aku sendiri,” lirihku,
Tangisku kembali berderu dalam sapuan angin malam. Sepi. Seperti nyanyian malam yang memilukan.
***
Dan hari-hari berikutnya, tak ada lagi cerita cinta, tak ada lagi tangis airmata. Meski, masih terpatri dengan satu nama “ABE”
“Kemarin, sekarang, dan esok akan tetap sama, tak ada yang berubah dengan hati ini, tak akan terisi oleh siapapun, takkan terganti oleh apapun.” Bisikku dalam hati saat memandang fotonya, tertulis di sana 20 Mei 2010. Hmm.. Terkulum senyumku, sekarang tanggal 22 November 2014. Rasanya baru kemarin aku belajar birunya rindu.
“Ayaaaa!” Chika membangunkanku, “ini sudah sore! masa lu mau tidur mulu. Tuh handphone lu dari tadi bunyi terus” Ocehnya lagi.
Ya, semenjak aku masuk kuliah di salah satu universitas di Indonesia empat tahun lalu, aku tinggal bersama Chika teman baruku. Dia pun tahu semua ceritaku tentang ‘Abe’ memang, seperti janjinya dia semakin sering menghubungiku dari negeri seberang sana. Namun, ini tidak berlangsung lama hanya bertahan dua bulan setelah kepergiannya.
“Chika cantik.. gw sudah bangun ko,” jawabku sambil memasukkan kembali foto itu ke dalam laci. Tersimpan rapih di sana, hatiku, rinduku, mimpiku dan cerita tentangnya.
“Oh iya, tadi Boby SMS gw katanya lu ga balas SMS dia! Dia mau jemput lu jam lima sore ini!” Teriaknya yang kemudian muncul di balik pintu.
“Chika…. kan lu tahu dari dulu gw ....”
“Ya karena gw tahu! Ayolah Ayaaaa! Come on baby…,  move on! Nikmati masamu sekarang, lagian sampe kapan lu mau seperti ini terus?”
“Seperti ini gimana? Chika, gw seneng-seneng aja ko. Lagian, apa lu pernah lihat gw nangis? Ga kan?”
Chika duduk di sampingku,
“Bukan itu maksud gw..  ya elu mau sampe kapan nutup hati lu?”
Aku hanya menggeleng, “entahlah, aku belum mau.”
Kemudian dia bangkit lagi,
“Pokoknya sore ini lu ga boleh nolak. Cepat sana mandi! Inget jam lima lu harus sudah rapih.”
Sekonyong-konyong dia langsung hilang di balik pintu. Dan aku masih bengong, enggak ngerti jalan pikirannya. “Kenapa jadi dia yang ngatur hidup gw?” Pikirku telat.
Aku langsung bangkit dan mengejarnya.
“Chika! Sorry, gw belum sempat cerita ke elu,”
“Tentang apa?”
“Sore ini gw mau ke Singapur…” Kataku merasa bersalah
“Kenapa tiba-tiba?”
“Ini ga tiba-tiba ko, aku sudah merencanakannya sejak lama.”
Kulihat Chika menghela nafas,
“Hmm.. aku tahu pasti kamu punya alasan ke sana. Ya sudahlah, baik-baik nanti di sana, cepat selesaikan urusanmu, setelah itu langsung balik. Untuk urusan di sini biar gw yang urus.”
Kupeluk sahabatku yang satu ini, “terimakasih Chika. Aku janji aku akan cepat balik.” Entahlah, kenapa aku berkata seperti itu.

***
Aku pernah janji “suatu saat nanti aku akan menemuimu” dan sekarang, kupenuhi janji itu. Kini aku dapat melihatmu, meliatmu memakai Toga. “Kau sangat keren,” pujiku, memang tak ada yang berubah, di mataku kau tetap keren. Dulu.. sekarang.. hanya saja, sekarang bukan aku yang ada di sampingmu.
Dan sesaat mata kita bertemu, kulihat kau memicingkan mata, mencoba menajamkan penglihatanmu. “Benar, ini aku.” Bisikku dalam hati, lalu aku tersenyum untuk menjawab tanya pada matanya.
Tak lama setelah itu, kau mulai beranjak menghampiri di mana tempatku berada, tentunya dengan menggandeng wanita itu. Kau mulai mendekat dan semakin dekat. Jantungku.. uuuughtt! Berdegup memberontak. Tak bernada. Namun langkahmu, begitu yakin dan berirama. Oh Tuhan… Kuatkan aku!
“Hai,”
Sapamu seperti nyanyian terdengar oleh telingaku, membuatku merindu sesaat akan hadirmu. Cepat tersadar dan kubalas dengan senyumku.
“Kenapa tak bilang ada di sini?” Tanyamu.
“Selamat ya!” Itu jawabanku atas kelulusanmu
“Terimakasih. Oh iya, kenalkan ini tunanganku Ainin,” katamu kemudian
DEG. Kutahan degup jantungku yang terkoyak, kusimpan tangisku yang hampir pecah, kusembunyikan lututku yang hampir roboh dan yang terpenting, kutahan suaraku agar tak menjerit.
Aku mengulum senyum pada Ainin, ia mengulurkan tangan dan aku menjabat tangan cantiknya.
“Selamat ya, aku Aya teman SMA Abe saat di Jakarta dulu,” sapaku mencoba hangat padanya, kubuat setulus mungkin.
“Aku Seva Ainin Salwa tunangannya, salam kenal,” jawabnya,
Aku hanya menganggukkan kepala, tak lupa untuk tetap tersenyum.
“Sejak kapan ada di sini?” Tanyamu lagi
“Dua hari yang lalu.”
“Tinggal sama siapa?”
“Sepupuku.”
“Beruntung kau ada di sini sekarang,” Ainin ikut nimbrung
“Kenapa?” Heranku
“Aku akan mengundangmu di pesta pernikahan kami minggu depan, sebagai tamu special,”
“Tak usah, aku tak akan datang.” Kulihat, kau terkejut dengan jawabanku yang tanpa basa-basi itu.
“Kenapa?” Kejar Ainin heran, mungkin itu juga pertanyaan yang ada di benakmu.
“Besok pagi aku sudah harus kembali ke negeriku Indonesia,” jawabku datar.
“Oh, kenapa tak menetap lebih lama di sini?”
“Sedang menyusun tugas akhir.”
“Oh iya? Semoga lancar.”
“Amin, baiklah aku harus pergi sekarang.”
“Yah, hati-hati” Katamu kemudian, menutup perjumpaan kita siang itu.
Aku pun beranjak perlahan, dan perlahan juga rekaman kenangan saat-saat bersama dulu kembali memutar dalam memoriku, berputar terus berputar silih berganti, matamu, senyummu, tawamu, candamu, dan bisikan cintamu yang tak pernah bosan aku mendengarnya, masih sangat jelas dalam ingatanku. Namun kali ini, sulit sekali rasanya untuk bernapas. Sesak.
Dan sesuatu menampar mataku, menggumpal membuat mataku pedih. Dan sedetik kutersadar, bahwa kini kau bukan milikku lagi. Kini penantianku berujung tanpa tanya.
Kuayunkan langkah menjauh darimu dan semakin jauh. Tangisku pecah, tak dapat kuhentikan derai airmataku yang kembali menyapa bumi, menjawab kerinduanku dan menjawab penantian cintaku.
Kini, aku tahu bagaimana rasanya menunggu, kini aku tahu bagaimana rasanya terluka, kini aku tahu apa itu kesetiaan, kini aku tahu apa itu merelakan dan kini aku tahu alasan untuk airmataku.
Kupalingkan diri dari masa kelam, ada rindu yang tak terjawab terbalut luka, ada airmata tak terbalas berselimut dendam, dan ada sepotong hati yang tertinggal yang tak ku mengerti untuk siapa. Dan dalam sepi aku bertanya, masih adakah rasa yang tertinggal untukku di sana? 
Ie_Kidz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar