Sepotong Hati yang Tertinggal
Senja itu, kala terakhir aku menatap matanya, mencoba meyakini
hati.
“Tak apa,” bisikku pilu dalam diri
“Aku akan pergi lama dan mungkin tak akan pernah balik lagi,” katanya.
Dan kusimpan tangisku untuk hadirkan sebuah senyuman dalam lakon
kebohongan yang kumainkan saat itu. Namun sedetikpun aku tak ingin lepas dari
pupil hitamnya, seakan tak ada kerelaan yang coba kutahan.
“Pergilah, untuk apa aku menahanmu di sini, kau pun tetap harus
pergi.” Bohongku lagi.
Aku bingung, apa yang aku rasakan.
Ketika dia bilang hendak pergi untuk melanjutkan S1 di Singapore,
aku tak bisa menghalanginya dan itu juga tak mungkin aku lakukan. Entahlah,
kenapa aku merasa kalau dia benar-benar akan pergi, bukan hanya untuk
melanjutkan studi tapi juga untuk meninggalkanku.
Perasaan apa ini…, kugigit bibir bawahku mencoba menahan tangis yang
hampir menggagalkan aktingku.
“Tapi, gimana dengan hubungan kita?” Tanyamu masih tak percaya
dengan keputusanku
Terhanyut dalam lamunanku sendiri,
“Hah? Apa?”
“Gimana dengan hubungan kita?” Tanyamu lagi
“Apa yang kau inginkan?”
“Aku… aku….” Lalu kau terdiam, beku, tak mampu melanjutkan
kata-katamu.
“Aku tak bisa menunggumu.” Putusku kemudian
“Tidak! Bukan itu yang aku inginkan!” Bantahmu
“Indonesia dan Singapura, tidak sama dengan Jakarta-Depok,” kataku
lagi
“Kita masih bisa komunikasi, aku akan lebih sering menghubungimu,
kita juga bisa chattingan kapan pun kita mau!” Serumu kemudian.
Melihatku diam dia terus saja mengoceh, berusaha untuk meyakinkanku
dan berharap aku bisa memahami pintanya. Aku mengerti, dia tak bisa
mengendalikan perasaannya, cinta dan egonya tak bisa dibedakan saat ini. Dan
aku harus menghentikan drama ini. Meski aku tahu, aku tak bisa mengalihkan mata ini pada hal
lain jika ada dia di depanku. Tapi, tidak untuk sekarang! Aku harus
melakukannya.
Kemudian, aku berbalik memunggunginya.
“Aku yang ga bisa jika kita jauh, dan aku… aku ga bisa menunggumu.”
Ucapku tanpa ragu, seketika airmata ini berderai, tak mampu kutahan. Dan aku
tak harap dia tahu.
Aku beranjak pergi, tanpa menunggu kata apapun darinya, tanpa
berbalik, untuk melihatnya dan tanpa menunggu meski sejenak untuk sekadar
mengucapkan selamat tinggal. Sungguh aku takut. Aku takut jika aku berbalik aku
tak mampu untuk melepaskannya. Aku takut, jika berbalik dia akan melihat
airmataku. Aku takut. Sungguh aku takut untuk benar-benar kehilangannya.
“Tapi aku janji, suatu saat nanti aku akan menemuimu.” Yakinku
dalam hati.
“Aku akan selalu mencintaimu! Apapun yang kau katakan aku tetap
mencintaimu! Kita akan selalu bersama!” Teriakmu memecah senja yang mulai nampak
hilang berganti malam.
Aku tak perduli, semakin mempercepat langkahku dan secepat mungkin
menghilang dari hadapannya.
Aku tak tahu ke mana kaki ini menyeretku, terus berjalan dan
berjalan, hanya itu yang kutahu. Tanpa sadar, malam menjeratku, sendiri
berselimut sepi. Dan aku berhenti, tertunduk perih di pinggir jalan. Tangisku
semakin pecah di kegelapan malam, kutengadahkan mata, semua terlihat gelap
gulita seperti halnya hati ini.
“Kini aku sendiri,” lirihku,
Tangisku kembali berderu dalam sapuan angin malam. Sepi. Seperti
nyanyian malam yang memilukan.
***
Dan hari-hari berikutnya, tak ada lagi cerita cinta, tak ada lagi tangis
airmata. Meski, masih terpatri dengan satu nama “ABE”
“Kemarin, sekarang, dan esok akan tetap sama, tak ada yang berubah
dengan hati ini, tak akan terisi oleh siapapun, takkan terganti oleh apapun.”
Bisikku dalam hati saat memandang fotonya, tertulis di sana 20 Mei 2010. Hmm..
Terkulum senyumku, sekarang tanggal 22 November 2014. Rasanya baru kemarin aku
belajar birunya rindu.
“Ayaaaa!” Chika membangunkanku, “ini sudah sore! masa lu mau
tidur mulu. Tuh handphone lu dari tadi bunyi terus” Ocehnya lagi.
Ya, semenjak aku masuk kuliah di salah satu universitas di
Indonesia empat tahun lalu, aku tinggal bersama Chika teman baruku. Dia pun
tahu semua ceritaku tentang ‘Abe’ memang, seperti janjinya dia semakin sering
menghubungiku dari negeri seberang sana. Namun, ini tidak berlangsung lama hanya
bertahan dua bulan setelah kepergiannya.
“Chika cantik.. gw sudah bangun ko,” jawabku sambil
memasukkan kembali foto itu ke dalam laci. Tersimpan rapih di sana, hatiku,
rinduku, mimpiku dan cerita tentangnya.
“Oh iya, tadi Boby SMS gw katanya lu ga balas SMS
dia! Dia mau jemput lu jam lima sore ini!” Teriaknya yang kemudian
muncul di balik pintu.
“Chika…. kan lu tahu dari dulu gw ....”
“Ya karena gw tahu! Ayolah Ayaaaa! Come on baby…, move on! Nikmati masamu sekarang, lagian
sampe kapan lu mau seperti ini terus?”
“Seperti ini gimana? Chika, gw seneng-seneng aja ko. Lagian,
apa lu pernah lihat gw nangis? Ga kan?”
Chika duduk di sampingku,
“Bukan itu maksud gw.. ya elu mau sampe kapan nutup hati lu?”
Aku hanya menggeleng, “entahlah, aku belum mau.”
Kemudian dia bangkit lagi,
“Pokoknya sore ini lu ga boleh nolak. Cepat sana mandi!
Inget jam lima lu harus sudah rapih.”
Sekonyong-konyong dia langsung hilang di balik pintu. Dan aku masih
bengong, enggak ngerti jalan pikirannya. “Kenapa jadi dia yang ngatur hidup
gw?” Pikirku telat.
Aku langsung bangkit dan mengejarnya.
“Chika! Sorry, gw belum sempat cerita ke elu,”
“Tentang apa?”
“Sore ini gw mau ke Singapur…” Kataku merasa bersalah
“Kenapa tiba-tiba?”
“Ini ga tiba-tiba ko, aku sudah merencanakannya sejak lama.”
Kulihat Chika menghela nafas,
“Hmm.. aku tahu pasti kamu punya alasan ke sana. Ya sudahlah,
baik-baik nanti di sana, cepat selesaikan urusanmu, setelah itu langsung balik.
Untuk urusan di sini biar gw yang urus.”
Kupeluk sahabatku yang satu ini, “terimakasih Chika. Aku janji aku
akan cepat balik.” Entahlah, kenapa aku berkata seperti itu.
***
Aku pernah janji “suatu saat nanti aku akan menemuimu” dan
sekarang, kupenuhi janji itu. Kini aku dapat melihatmu, meliatmu memakai Toga.
“Kau sangat keren,” pujiku, memang tak ada yang berubah, di mataku kau tetap
keren. Dulu.. sekarang.. hanya saja, sekarang bukan aku yang ada di sampingmu.
Dan sesaat mata kita bertemu, kulihat kau memicingkan mata, mencoba
menajamkan penglihatanmu. “Benar, ini aku.” Bisikku dalam hati, lalu aku
tersenyum untuk menjawab tanya pada matanya.
Tak lama setelah itu, kau mulai beranjak menghampiri di mana tempatku
berada, tentunya dengan menggandeng wanita itu. Kau mulai mendekat dan semakin
dekat. Jantungku.. uuuughtt! Berdegup memberontak. Tak bernada. Namun
langkahmu, begitu yakin dan berirama. Oh Tuhan… Kuatkan aku!
“Hai,”
Sapamu seperti nyanyian terdengar oleh telingaku, membuatku merindu
sesaat akan hadirmu. Cepat tersadar dan kubalas dengan senyumku.
“Kenapa tak bilang ada di sini?” Tanyamu.
“Selamat ya!” Itu jawabanku atas kelulusanmu
“Terimakasih. Oh iya, kenalkan ini tunanganku Ainin,” katamu kemudian
DEG. Kutahan degup jantungku yang terkoyak, kusimpan tangisku yang
hampir pecah, kusembunyikan lututku yang hampir roboh dan yang terpenting, kutahan
suaraku agar tak menjerit.
Aku mengulum senyum pada Ainin, ia mengulurkan tangan dan aku
menjabat tangan cantiknya.
“Selamat ya, aku Aya teman SMA Abe saat di Jakarta dulu,” sapaku mencoba
hangat padanya, kubuat setulus mungkin.
“Aku Seva Ainin Salwa tunangannya, salam kenal,” jawabnya,
Aku hanya menganggukkan kepala, tak lupa untuk tetap tersenyum.
“Sejak kapan ada di sini?” Tanyamu lagi
“Dua hari yang lalu.”
“Tinggal sama siapa?”
“Sepupuku.”
“Beruntung kau ada di sini sekarang,” Ainin ikut nimbrung
“Kenapa?” Heranku
“Aku akan mengundangmu di pesta pernikahan kami minggu depan, sebagai
tamu special,”
“Tak usah, aku tak akan datang.” Kulihat, kau terkejut dengan
jawabanku yang tanpa basa-basi itu.
“Kenapa?” Kejar Ainin heran, mungkin itu juga pertanyaan yang ada
di benakmu.
“Besok pagi aku sudah harus kembali ke negeriku Indonesia,” jawabku
datar.
“Oh, kenapa tak menetap lebih lama di sini?”
“Sedang menyusun tugas akhir.”
“Oh iya? Semoga lancar.”
“Amin, baiklah aku harus pergi sekarang.”
“Yah, hati-hati” Katamu kemudian, menutup perjumpaan kita siang itu.
Aku pun beranjak perlahan, dan perlahan juga rekaman kenangan
saat-saat bersama dulu kembali memutar dalam memoriku, berputar terus berputar
silih berganti, matamu, senyummu, tawamu, candamu, dan bisikan cintamu yang tak
pernah bosan aku mendengarnya, masih sangat jelas dalam ingatanku. Namun kali
ini, sulit sekali rasanya untuk bernapas. Sesak.
Dan sesuatu menampar mataku, menggumpal membuat mataku pedih. Dan
sedetik kutersadar, bahwa kini kau bukan milikku lagi. Kini penantianku
berujung tanpa tanya.
Kuayunkan langkah menjauh darimu dan semakin jauh. Tangisku pecah,
tak dapat kuhentikan derai airmataku yang kembali menyapa bumi, menjawab
kerinduanku dan menjawab penantian cintaku.
Kini, aku tahu bagaimana rasanya menunggu, kini aku tahu bagaimana
rasanya terluka, kini aku tahu apa itu kesetiaan, kini aku tahu apa itu
merelakan dan kini aku tahu alasan untuk airmataku.
Kupalingkan diri dari masa kelam, ada rindu yang tak terjawab
terbalut luka, ada airmata tak terbalas berselimut dendam, dan ada sepotong
hati yang tertinggal yang tak ku mengerti untuk siapa. Dan dalam sepi aku
bertanya, masih adakah rasa yang tertinggal untukku di sana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar