Senin, 18 Maret 2013

Gadis Dalam Cermin


Gadis Dalam Cermin

Aku akan berteriak jika ada yang menyebut nama itu, aku akan mencari-cari bila perasaanku berkata ada dia di sekitarku. Mataku tak pernah tenang untuk menangkap sosoknya yang terus mengganggu alam sadarku. Mereka bilang aku gila. Gila dengan cintaku. Mereka bilang bosan, bosan dengan keluh-kesahku. Mereka bilang aku menyedihkan, mengenaskan dengan akhir kisah itu.

Aku dan janji ini menghukumku. Janji yang mana? Janjiku kau laki-laki terakhir yang ada di hatiku, tapi bagaimana sekarang? Jangan bertanya padaku!

Dalam cermin aku melihat gadis itu menangis, entah apa yang dia tangisi. Oh dia mengambil sesuatu dari laci meja di sebelahnya, foto. Ya foto-foto itu kemudian disobeknya dengan sangat cantik. Aku tersenyum, dulu aku juga melakukannya, menyimpan foto orang yang kita sayang dan menganggapnya sebagai dewa penyelamat dalam hidup. Aku tahu sekarang apa yang gadis itu tangisi, ceritanya yang telah berakhir? Menyadari bahwa dirinya kembali sendiri? Atau takut masa lalunya akan kembali menyiksanya? Inginku merengkuh gadis itu dalam pelukku, membisikkan kalau bukan hanya kamu yang merasakan itu. Tapi tangan ini tak mampu merengkuhnya.
Aku melihat gadis itu mulai beranjak dari tempat duduknya, dan kini bersandar di samping tempat tidurnya. Entah apa yang dipikirkannya. Matanya terpejam, lalu tertunduk memegang erat kedua kakinya. Aku tahu, pasti kamu merasa sendiri.

Seseorang mengetuk pintu, gadis itu diam tak bergeming, orang di balik pintu itu masih mengetuk, lalu terdengar suara “makan dulu..” dia tahu itu suara ibunya, pintu itu masih terus diketuk, dalam samar gadis itu berteriak “ga lapar” tak lama pintu itu terbuka, dan gadis itu masih merunduk. “Kamu menangis?” gadis itu tak bergeming. “Tinggalkan siapapun yang membuatmu menangis,” lalu wanita paruh baya itu kembali menutup pintu. Tanpa mengetahui apa masalah gadis itu, wanita itu pintar.

Aku ingin berteriak, tolong jangan tinggalkan gadis itu sendirian, tolong peluk dia, tolong bilang bahwa besok akan baik-baik saja. Tapi tak ada yang bisa mendengar suara ini. Gadis itu mulai menangis dengan suaranya, mengerang betapa sakitnya. Teruslah menangis sayang, teruslah menangis, keluarkan amarahmu, keluarkan lelahmu yang tertahan selama ini, keluarkan bencimu, keluarkan, keluarkan semuanya. Jangan sisakan! Dan dengarkan hatinya meronta.

Mencintaimu itu seperti berjalan dengan satu kaki, melalahkan. Meski lelah tapi aku tak mau berhenti, aku yakin kau memberiku harapan di depan sana. Itu alasanku bertahan. Tapi sayang, hadirku tak pernah berarti dalam hidupmu. Aku selalu ingin tahu apa saja yang kamu lakukan hari ini, aku ingin tahu apa yang akan kamu lakukan besok, aku ingin tahu apa yang sedang mengganggu pikiranmu, aku ingin tahu apa yang membuatmu marah, aku ingin tahu apa yang membuatmu tersenyum, aku ingin tahu apa mimpimu semalam, aku ingin tahu apa menu makanmu hari itu, aku ingin tahu siapa teman-temanmu, aku ingin tahu bagaimana keluargamu, aku ingin tahu siapa nama aku di handphonemu, aku ingin tahu foto siapa di layar handphonemu, aku ingin tahu gambar siapa di dekstopmu, aku ingin tahu foto siapa di dompetmu, aku ingin tahu.. aku ingin tahu.. aku ingin dengar kamu bilang cinta, aku ingin dengar kamu bilang kangen, aku ingin dengar kamu bilang sayang, aku ingin dengar.. aku ingin dengar…selalu.

Aku bilang, tinggalkan aku saat rasa sayang itu tak lagi ada untukku. Dan kau melakukannya saat itu juga. Begitu yakin, aku terkejut. Tersenyum pahit, lalu apa yang terjadi denganku? Aku hanya terhempas seperti kapas yang tertiup angin. Aku tertawa. Baik, kau berhasil membuatku menangis kali ini, tapi janjiku akan ku tutup rapat-rapat tak berbekas.

Coba dengarkan aku. Dengarkan kali ini saja. Seperti gadis lain, ada saat di mana aku juga ingin dimanja dan diperhatikan bukan oleh orang lain tapi oleh kekasihku sendiri. Tapi manusia satu itu, tak pernah memenangkan hatiku. Aku tak akan lagi berharap, harapan itu semakin memperparah lukaku.
Bodoh! Aku merindukanmu.

Gadis itu bangkit, lalu menghapus tangisnya. Diliriknya jam menunjukkan pukul 03.00 dini hari, menggeleng dan berlalu dibalik pintu.
Tangerang, 29 Januari 2013
Ie_kidz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar